Postingan

‘Emas’ Luwu (bag. 2)

Gambar
  Selain memiliki emas berwujud batuan mineral berwarna coklat keemasan, Luwu juga kaya akan emas berwarna ‘hijau’ yang menjadi makanan pokok bangsa kita. Walaupun awalnya berwarna hijau, namun setelah matang dan siap panen emas hijau ini akan berubah menjadi warna kuning ke’emas’an juga. Karena jadi kebutuhan pokok dan akan jadi bahan langka ditengah ancaman krisis pangan global karena pandemi maka wajar tanaman ini dapat dikatakan bahan berharga senilai emas sebenarnya. Saat masa panen seperti saat ini (oktober-november), arus mobilisasi truk-truk yang membawa Gabah Kering Panen (GKP) menuju pabrik pengolahan yang saat ini cuman terdapat di Kab. Sidrap menjadi pemandangan menarik. Saat saya duduk santai di teras rumah yang kebetulan berada di poros jalan trans Sulawesi, hanya duduk santai selama 1 jam terhitung sekitar 50-70 truk pembawa GKP tersebut lewat, di kesempatan lain ketika saya berkendara dari Palopo menuju Belopa tak kurang 40-50 truk pembawa gabah kering itu har...

'Emas' Luwu (bag. 1)

Gambar
  Belakangan 3 bulan terakhir ini di kota Belopa terlihat banyak lalu lawang mobil-mobil operasional perusahaan tambang jenis double cabin 4x4, terlihat pula penginapan dan hotel kelas melati di Belopa yang terlihat ramai walaupun kita tau tingkat okupasi hunian hotel pada masa pandemi ini sangat rendah. Ternyata itu disebabkan oleh mulai geliatnya operasional tambang emas yang dikenal dengan nama Blok Awak Mas di Desa Rante Balla Kec. Latimojong yang izinnya dimiliki oleh PT. Masmindo Dwi Area.  Secara histori, keberadaan emas di wilayah pengunungan Latimojong ini konon telah jadi cerita sejak puluhan tahun lalu (50 tahun lalu) , pun cerita rakyat tentang emas itu kadang menjadi mitos yang kadang diceritakan diluar nalar ilmiah –seperti cerita, tahun 80-an saat kecil dulu kami sering mandi-mandi disekitar sungai Bajo, ada cerita bahwa terdapat bongkaran emas sebesar kerbau dibawah sungai Bajo itu- masyarakat umum tak secara penuh mempercayai adanya batuan mineral b...

sub urban Bua

Gambar
Mari membayangkan bandara Lagaligo Bua akan sebesar Bandara Sultan Hasanuddin saat ini...10 tahun kedepan, mungkin belum...15 tahun kedepan, mungkin juga belum...namum 20 tahun kedepan, impian itu mungkin terwujud. Setidaknya saat ini bandara Lagaligo Bua telah menjadi bandara terbesar ke-2 di Sulawesi Selatan setelah Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Walaupun dari tolak ukur panjang landasan pacunya saat ini 1,400 m masih kalah dari Bandara Buntu Kunik, Toraja sepanjang 2.600 m namun dari sisi kapasitas layanan jumlah penumpang 1 juta pertahun, layanan frekuensi penerbangan yang sudah setiap hari dan jumlah maskapai yang melayani yaitu Wings Air dan Citilink maka wajar bila bandara Bua menjadi terbesar ke-2 di Sulsel.   Kamis, 17/9/2020 maskapai Citilink secara resmi melayani rute Makassar-Bua dengan pesawat ATR-600 kapasitas 72 penumpang. Sebelumnya Wings Air telah melayani rute ini setiap hari, 2 maskapai ini akan melayani pagi dan sore hari. Rencana 2021 bila panjang runwa...